Inspirasi

Sabtu

Story-Eyeshield21 Detektif Devil Bat

Detektif Devil Bat
By grammarsucks
Hari ini Sena ulangan matematika.
Aljabar. Guru killer. Sempurna.
Biasanya guru MTK Sena akan selalu berjalan mengelilingi kelas, mondar-mandir demi mengawasi murid satu per satu supaya mereka tidak akan dapat kesempatan nyontek. Sena tidak pernah nyontek, seumur hidupnya tidak pernah. Ia memang anak polos, jujur... semua berkat ajaran ibunya. Tapi di sini bukan nyontek masalahnya.
Masalahnya adalah: kali ini sang guru MTK tidak jalan sana jalan sini buat mengawasi murid.
Sena menatap ke depan kelas, tempat meja guru berada, sambil memainkan penanya. Di depan sana tampak Pak Guru sedang duduk dengan tenang di kursinya. Matanya tidak menerawang kelas untuk mengawasi murid. Justru pandangan beliau tertancap seperti paku di dinding pada sebuah buku kecil dengan kaver merah.
Judul buku itu adalah The Memoirs of Sherlock Holmes.
"Sudah baca The Final Problem?"
"Oh, yang soal Profesor Moriarty itu kan? Aku sempat mengira Holmes mati, lho!"
"Waktu itu Doyle ingin memberhentikan cerita Holmes, tapi malah ditentang publik."
"Itu sih wajar... soalnya ceritanya bagus."
Sena mendesah setelah mendengar pembicaraan kedua gadis sekelasnya. Entah kenapa saat ini semua orang sangat tergila-gila dengan Sherlock Holmes. Sebelumnya Sena tidak tahu nama siapa—atau malah apa itu Sherlock Holmes; setelah populer sekarang, barulah ia kenal. Bukan kenal, ia menjadi bosan dengannya. Sena pernah membaca bukunya sekali, yang edisi Jepang, dan setelah membacanya ia malah sakit kepala. Itu baru yang edisi Jepang, belum lagi yang bahasa Inggrisnya!
Bukan cuma guru atau teman-teman Sena saja yang kena demam Holmes. Bahkan Kak Mamori, Suzuna, dan anggota Deimon lainnya juga, kecuali Hiruma. Sena tidak bisa membayangkan quarterback Devil Bats itu memakai topi dan menghisap cerutu sambil mondar-mandir dengan sebuah lup di tangannya. Menyeramkan.
"Waktunya latihan," gumam Sena. Semoga latihan dapat menyegarkan otakku dari Sherlock Holmes, pikirnya dalam hati. Tapi tak lama kemudian ia menyingkirkan pikiran itu. Salah, Sena, salah! Bukannya menyegarkan, latihan malah akan menambah hal berbau Holmes ke dalam otakmu! ujarnya, secara mental menceramahi dirinya sendiri. Dengan pikiran baru itu Sena malah jadi malas latihan.
Tapi kalau tidak datang latihan hari ini, Hiruma-san akan...
"Hiiii!" Serunya, sampai orang yang lewat langsung menoleh padanya. Hanya manusia bodoh yang mau cari mati yang berani melawan Hiruma karena tidak datang latihan. Dan Sena memang manusia, tapi tidak bodoh (setidaknya tidak bodoh-bodoh amat) dan tidak mau cari mati—ia masih mau hidup, itu kata lainnya. Jadi dengan langkah berat sang runningback berjalan menuju lapangan amefuto.
"Hmmm, sepatu yang talinya tidak terikat dengan baik..."
"Wajahnya yang berkeringat..."
"Dan ekspresinya yang lemas..."
"KAU PASTI HABIS DIKEJAR CERBERUS!" Teriak Ha-ha Bersaudara kompak, dengan kaca pembesar di tangan mereka masing-masing, sambil berkacak pinggang. Dengan pemandangan macam ini, siapa yang tidak bakal sweatdrop? Fakta inilah yang membuat Sena sweatdrop. Semua orang normal yang melihat pose trio ini pasti akan sweatdrop, dan Sena masih normal.
"Tidak kok, Jumonji-san, Kuroki-san, Togano-san. Aku saja baru sadar tali sepatuku lepas saat kalian bilang tadi..." ujar Sena, lalu berjongkok untuk mengikat kembali tali sepatunya. "Kenapa berkeringat?" tanya Kuroki pada runner yang masih sibuk dengan sepatunya. "Hari ini mataharinya terik," balas Sena, kemudian berdiri setelah tali sepatunya benar. Memang, meski belum musim panas, tapi tiga orang itu mengakui hari ini lebih panas dari biasanya.
3 Bersaudara yang sebenarnya bukan saudara asli itu menatap satu sama lain, lalu melontarkan pertanyaan terakhir. "Terus kenapa kamu lemas sekali?" kata mereka bertiga serempak. Mendengar pertanyaan ini Sena spontan menggaruk kepalanya dan berdehem. "Ah... itu... Sebenarnya..."
Kalimat Sena terpotong oleh sebuah teriakan familiar yang berasal dari tengah lapangan. Ke-empat orang itu menoleh untuk mencari sumber suara di tengah lapangan. Di situ berdirilah Hiruma dengan sebuah helm football di tangannya. Suaranya yang keras terdengar sampai ke pojok-pojok lapangan.
"Oi, teri-teri sialan, KUMPUL!"
Sena meletakkan sepatunya ke dalam rak. "Aku pulang..." ujarnya lemah, kemudian dengan langkah loyo ia naik ke kamarnya.
"Selamat datang! Latihan hari ini capek ya, Sena?" tanya ayahnya yang sedang duduk di meja makan ditemani secangkir kopi dan koran harian. "Yaaaaa," jawab Sena dengan malas dari kamarnya. "Makanan sudah siap lho," kali ini giliran ibunya yang menyapanya, sementara kucing keluarga mereka, Pit, hanya mengeong.
Setelah mandi air hangat yang menyegarkan dan makan malam buatan ibunya, Sena yang kini sudah memakai piyama duduk di atas tempat tidurnya yang empuk. Capeknya hari ini, batinnya. Ulangan aljabar, mendengar orang lain ngobrol tentang Holmes melulu, aksi Sherlock Holmes oleh Ha-ha Bersaudara, latihan football dibawah terik matahari...
"Uuuf..." Sena menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Ia melemparkan dirinya ke atas ranjang dan menarik selimutnya sampai hanya kepalanya yang kelihatan. Tidak lama kemudian, Sena yang kelelahan pun tertidur nyenyak.
Hari ini matahari tertutup oleh awan, satu hal yang disyukuri oleh Sena. Jujur saja, ia tidak mau lagi latihan dengan terik matahari se-intens kemarin. Nyaris membuatnya dan anggota Deimon yang lain sunstroke. Tapi yang penting hari ini cuacanya cerah.
Dengan langkah yang pasti Sena memasuki kelas, yang anehnya, masih kosong. Refleks, Sena menoleh ke jam dinding di kelasnya. "Sudah hampir bel masuk, kenapa sepi?" gumamnya pada dirinya sendiri—karena tidak ada orang selain dia di ruangan itu.
Apakah hari ini hari Minggu? Ah, masa aku bisa lupa apakah hari ini hari Minggu atau tidak... biasanya Monta mengajakku ke WcDonald pada hari Minggu, pikir Sena. Hatinya semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Atau jangan-jangan Hiruma-san merencanakan sesuatu?
Yang itu sih mungkin saja.
Ah, Sena baru ingat kalau kelas-kelas lain yang ia lewati juga kosong. Ia kira mungkin mereka ke kantin, atau ke ruang komputer, atau bertemu guru di kantor...
Tapi tidak ada yang akan menghalangi Hiruma melakukan apapun, termasuk mengevakuasi seluruh murid di sekolah ini. Hanya saja untuk apa? Hiruma yang Sena kenal, yang kita semua kenal, tidak akan melakukan hal ekstrim seperti itu tanpa didasari motif tertentu. Masa' ia melakukan ini hanya untuk kepuasannya saja? Kedengarannya tidak seperti Hiruma.
Lamunan Sena buyar ketika bel masuk berbunyi. Awalnya Sena bingung harus melakukan apa, tapi ujung-ujungnya duduklah ia di kursi paling depan; karena tidak ada orang lain.
Tiba-tiba dari luar ruangan yang sunyi itu terdengar sebuah suara yang janggal. Bukan langkah kaki, tapi lebih mirip... kepakan sayap? Sena merinding saat suara itu semakin mendekati pintu kelasnya. Seluruh sekolah itu hening, dan Sena tahu bahwa hanya dia yang berada di dalam sekolah saat itu.
Tentu saja ia ingin pergi. Akhirnya dia berdiri setelah membulatkan tekadnya untuk pulang, tapi tepat pada saat itu sebuah sosok yang sangat dikenal Sena berdiri di ambang pintu kelasnya.
Sosok itu adalah Devil Bat dengan seragam guru.
"De-devil Bat?"
Kelelawar berwarna merah itu mengangguk. "Ya?"
Sena menelan ludahnya hingga berbunyi 'glek' lalu memberanikan dirinya untuk bertanya... "Kenapa kau disini? Bagaimana bisa? Bukannya kau... tidak nyata? Maksudku kau hanya maskot!" ujar Sena terbata-bata, saking banyaknya hal yang ingin dia tanyakan.
Ini gila.
"Yah, jangan kaget begitu, Sena," kata Devil Bat seolah tidak terjadi apa-apa baginya. "Hari ini aku yang jadi guru penggantimu, dan aku akan mengajarimu tentang Sherlock Holmes."
Sena menganga lebar. Sangat lebar. Sherlock Holmes? Devil Bat? Sebenarnya apa-apaan ini? Pastinya Hiruma tidak bisa melakukan hal seperti ini, membuat benda mati menjadi hidup. Sehebat-hebatnya Hiruma, dia tetap bukan Tuhan. Oh, jangan-jangan ini mimpi? Sena teringat sebuah scene di komik saat si tokoh utama mencubit dirinya dan kembali ke dunia nyata. Sena pun meniru apa yang dilakukan tokoh itu.
Tidak terjadi apa-apa.
"Hiiieee!"
Devil Bat melongo melihati Sena yang histeris karena 'tidak bisa kembali ke dunia nyata' dan berdecak. "Tenang, nak. Aku sudah ganti kostum kok." Mendengar kata-kata kelelawar maskot tim amefuto Deimon ini, Sena spontan memandangi kostum baru Devil Bat, kemudian berteriak lagi—lebih keras daripada sebelumnya.
Kali ini Devil Bat mengenakan setelan jas dan topi merah ala Holmes, sebuah cerutu di mulutnya dan sayap kirinya memegang lup.
Sena, tanpa berpikir panjang, berlari keluar dari kelas itu dan menuju gerbang sekolah karena takut akan keanehan-keanehan yang terjadi. Sebelumnya ia harus melewati lapangan amefuto terlebih dahulu supaya bisa sampai ke gerbang sekolah. Di salah satu bench duduk seorang setan berambut pirang dengan gaya yang tidak pernah dibayangkan Sena.
Di situ Hiruma sedang duduk dan meniup balon permen karet non-sugarnya, memakai kacamata bulat, setelan jas yang seukuran dengannya dan topi Holmes yang sama dengan Devil Bat, sambil mengutak-atik laptopnya dan menelitinya dengan kaca pembesar. Tampaknya ia tidak menyadari kehadiran Sena.
"Hiiiiieeee! Hi-hiruma-san?"
MUSTAHIL!
Setan itu menoleh pada Sena tanpa berkata apapun, membuat si cebol sialan itu malah berlari makin cepat karena ketakutan. Enggak mungkin, enggak mungkin Hiruma-san memakai baju Sherlock Holmes macam itu! pikir Sena, ketakutan setengah mati. Ia berhasil keluar dari sekolah dan berlari secepat kilat menuju rumahnya, menyusuri jalanan kota yang kosong.
Ketika sampai di rumah, yang ironisnya juga kosong, Sena langsung naik ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Matanya menerawang langit-langit kamarnya yang sederhana itu, sambil merenungkan hal super aneh yang terjadi beberapa waktu lalu.
Devil Bat menjadi hidup dan mengenakan seragam guru dan kostum Holmes, bahkan Hiruma-san juga...
Sena merinding.
Merasa ia perlu 'bernafas' sejenak, akhirnya Sena memutuskan untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku (karena kebanyakan berlari) dengan mandi air hangat, lalu memasak mie instan. Yah, mungkin begitu lebih baik, pikirnya sambil beranjak dari kasur ke kamar mandi, lalu menyalakan shower.
"Aahhh..." desah Sena ketika sudah menghabiskan mie instan dua bungkus buatannya sendiri. Seperti kata orang: ketika otot perut mengencang, otot mata mengendur... maksudnya ketika kita sudah kenyang, maka akan terasa ngantuk. Sena pun melangkah gontai menuju kamarnya tanpa mencuci piringnya—langsung diletakkan begitu saja di wastafel.
Begitu sampai ia melemparkan dirinya sendiri ke atas tempat tidur, kecapekan. Saking capeknya, tiga puluh detik sesudah kepalanya menyentuh bantal ia sudah tertidur.
PIP PIP PIP PIP PIP
Sena terbangun. Ia menyesal sudah menyetel alarm sepagi ini. Matanya masih setengah tertutup. Otaknya masih berkabut. Sena duduk di kasurnya sambil berusaha mengumpulkan nyawa-nyawa yang bertebaran.
Setelah sadar ia berpikir. Tunggu... yang barusan itu mimpi? Atau bukan?
Karena kebingungan Sena pun turun tangga, mencari piring yang ditinggalkannya di wastafel kemarin (kalau benar itu bukan mimpi), karena piring itu adalah satu-satunya bukti bahwa ia makan mie kemarin sebelum tidur. Saat sampai di dasar tangga, Sena mendapati ibunya sedang memasak sarapan pagi untuk keluarganya.
"Ibu?"
Sang ibu yang sadar akan kehadiran anaknya pun membalas. "Ah, Sena. Pagi. Tumben pagi-pagi begini sudah bangun. Kenapa?" sapa ibunya dengan ramah. Sena menggeleng. "Enggak ada apa-apa kok..." balas Sena, melirik wastafel yang kosong. "Barusan ibu cuci piring tidak?"
Ibu Sena menggeleng sambil mengaduk-aduk isi panci di hadapannya. "Tidak tuh," balasnya. Sena menatap wastafel kecil itu dengan mata yang melebar. Tidak ada? "Tidak ada piring kotor?" tanyanya lagi, masih tidak yakin. Ibu Sena mengangguk. "Memangnya kenapa?"
Sena menggeleng. Tidak ada piring kotor... berarti Devil Bat dan segala unek-uneknya itu hanya mimpi? Sekolah kosong, Hiruma-san jadi aneh? Itu hanya mimpi?
Kruyuk...
Perut Sena berbunyi terang-terangan, tanpa peringatan terlebih dahulu. Ibu Sena mendengarnya dengan jelas, sampai-sampai berkata 'sabarlah sedikit, ibu masih masak' kepada Sena yang memegangi perutnya dengan panik.
Aku lapar, padahal kemarin sudah makan mie dua bungkus... berarti benar-benar mimpi! sorak Sena dalam hati. Dengan langkah yang jauh lebih ringan dari yang sebelumnya, Sena kembali ke kamarnya, lalu mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
"Pagi, Sena-kun," sapa Mamori saat Sena sampai di sekolah.
"Pagi, Mamori-neechan," balas Sena sambil tersenyum.
"Nanti Sena-kun latihan tidak?" tanya gadis berambut auburn itu padanya. Sena hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia masih ingat dengan jelas wajah Hiruma dengan kostum ala Holmes itu, dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya dan balon permen karet yang ditiupnya. Sena tidak yakin harus bereaksi seperti apa saat bertemu Hiruma nanti.
Yah, Sena akan tetap datang. Kalau tidak mungkin bakal dibunuh Hiruma.
Hari ini ada sesuatu yang berbeda dengan suasana di sekolah. Setelah berpikir keras selama beberapa saat, Sena baru menyadari perubahan besar itu.
Tidak ada lagi yang berbicara tentang Sherlock Holmes.
Tidak ada lagi guru yang membaca buku Sherlock Holmes.
Tidak ada lagi pernak-pernik ala Sherlock Holmes.
Tidak ada lagi Sherlock Holmes!
Setelah sadar, Sena tersenyum lega. Ah, mungkin mereka sudah pusing dengan analisis Holmes yang hebat-tapi-rumit-minta-ampun itu? Tapi sudahlah, tidak usah dipikirkan, yang penting demam Holmes sudah berlalu di sekolah ini.
Berdiri di depan ruang klub membuat Sena merasa aneh. Aneh karena ada maskot Devil Bat di situ, membuatnya teringat mimpinya yang semalam. Ia juga masih sangat ingat bagaimana tampang maskot timnya dengan kostum yang sama dengan Hiruma, hanya saja lebih kecil. Ditambah lagi dengan cerutu yang dihisapnya, membuat gambaran Devil Bat yang normal menjadi aneh di mata Sena.
Padahal demam Holmes sudah tidak lagi melanda SMA Deimon, tapi Sena masih kepikiran. Akhirnya setelah melamun beberapa saat ia membuka pintu ruang klub football itu.
Saat pintu dibuka, langsung tampak sosok Hiruma sedang duduk di sofa, meniup permen karet tanpa gula yang selalu ia konsumsi, diam di depan layar laptopnya yang bersinar terang.
"Hiruma-san... kemana yang lain?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sena ini, balon permen yang ditiup Hiruma meletus. "Tidak ada latihan hari ini, cebol sialan," katanya singkat.
Tidak seperti biasanya, Sena langsung pamit dan pulang ke rumah. Ia tidak peduli kenapa latihan diliburkan. Mungkin karena Hiruma sibuk dengan laptopnya? Tapi apa yang ada di laptopnya? Jangan-jangan dia malah baca cerita Sherlock Holmes dari internet?
...apa benar Sena tidak peduli kenapa latihan diliburkan? Karena dari tadi ia bertanya-tanya terus.
Ah, sudahlah. Aku sudah tahu banyak. Terlalu banyak malah.
Tahu apa?
Aku tahu bagaimana suara Devil Bat saat bicara, bagaimana tampangnya saat memakai setelan guru dan kostum ala Holmes... aku juga tahu bagaimana tampang Hiruma-san dengan kacamata bulat dan jas Holmes sambil meniup permen karetnya.
Ah, benar juga.
end
A/N : SUMPAH, INI AMAT SANGAT GAJE! (tapi tetep di-post juga) Silahkan hujat aku, hina aku! Karena ini anehnya sudah kelewat batas. Ungkapkan pikiran kalian lewat review. Kalau kalian sependapat denganku bahwa fic ini gaje, bilang saja, tidak apa! Jujur lebih baik daripada bohong (ya iyalah)!
...tapi aku tetap menunggu review kalian. Hahaha. Makasih ya sudah mau baca, aku minta maaf juga buat yang sudah capek-capek baca tapi hasilnya mengecewakan begini +_+
Arigato Gozaimasu! m(_ _)m

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan coment dibawah ini, kalo bisa kritik dan sarannya juga yah..